Tampilkan postingan dengan label Indonesia kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia kita. Tampilkan semua postingan

8.03.2008

Bagaimana Ceritanya Kelahiran BU Dianggap Sebagai Kebangkitan Nasional?

Dijelaskan oleh Ibu Nina Lubis, ahli sejarah dari Unpad tadi (lihat artikel sebelumnya), setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia harus berjuang mencegah kembalinya penjajah Belanda. Saat itulah, pemimpin bangsa berusaha mengobarkan semangat persatuan, dengan mengenang kembali berdirinya Budi Utomo dengan istilah "Kebangkitan Nasional". "Untuk masa perang kemerdekaan memang diperlukan penciptaan 'mitos' ini", kata Bu Nina.

Meski faktanya Budi Utomo itu hanya menyangkut orang Jawa, tapi dikatakanlah bahwa semangat Budi Utomo adalah semangat nasional. Tentu saja "Kebangkitan Nasional" semacam ini adalah mitos untuk memberi semangat kepada rakyat.

Nah, kita harus menyadari bahwa fakta sejarah itu berbeda dengan mitos. Jadi, kita juga perlu melakukan pemaknaan kembali "peristiwa 20 Mei 1908" itu. Jangan sampai semangat kesukuan yang muncul dalam diri BU dianggap sebagai pemicu lahirnya semangat nasionalisme kebangsaan.

dikutip dari majalah Islam Sabili

baca juga : Budi Utomo Bukan Pelopor Kebangkitan Nasional?
Cinta Pemerintah Pada Rakyat

artikel terkait : era muslim

Budi Utomo bukan pelopor Kebangkitan Nasional?

Sebelum menelurusi.. eh.. cuih.. menelusuri lebih jauh tentang Kebangkitan Nasional, ada baiknya juga kita mengenal dulu Sejarah Kebangkitan Nasional . . .


Pada 20 Mei 1908 murid-murid STOVIA, OSVIA, Sekolah Guru, Sekolah Pertanian, dan Sekolah Kedokteran Hewan mengadakan pertemuan di Jakarta. Pertemuan inilah yang melahirkan organisasi Budi Utomo. Lalu apakah kelahiran BU ini otomatis menandakan Kebangkitan Nasional??? Eit... Ntar dulu! ^_^

Bahasa Melayu
Budi Utomo tak lebih dari sebuah organisasi kesukuan, bukan kebangsaan. Anggotanya saja, khusus orang-orang Jawa. Suku non-Jawa, tidak boleh masuk BU. Bahasanya pun bahasa Jawa, padahal saat itu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antarseluruh komponen bangsa du Nusantara adalah bahasa Melayu, cikal-bakal bahasa Indonesia.

Sejak lahirnya, hingga 31 tahun kemudian, BU tidak pernah mau mengakui bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Organisasi ini sangat ekslusif dan tidak mau menerima anggota dari luar Jawa, malah pengennya bahasa Jawa atau bahasa Belanda sebagai bahasa nasional.

Masalah ini membuat kesal beberapa tokoh pejuang nasional pada waktu itu dan menganggap bahwa gerakan Budi Utomo adalah gerakan kebudayaan kejawen tulen yang menafikan peranan pemuda dari luar Jawa. Java sentris sangat kental dalam tubuh BU.
Lalu gimana bisa mengklaim bahwa organisasi ini merupakan awal kebangkitan nasional???
Di sinilah terjadinya pemutarbalikan sejarah. Antara fakta dan mitos campur aduk jadi satu.

Menurut sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, DR Nina Lubis, sejarah menyangkut fakta. Sedangkan mitos berhubungan pemberian makna suatu fakta dalam upaya memberikan ketenangan, membangkitkan semangat, kepercayaan, atau memberikan jawaban kepada masyarakat.

Nah, di sinilah pentingnya kita mengkaji ulang fakta sejarah yang ada. Budi Utomo itu adalah organisasi atau kumpulan para priyayi, dengan fokus perhatian pada masalah pendidikan dan kebudayaan, bukan mempersiapkan kebangkitan nasional untuk menyongsong kemerdekaan.

kongres BU tahun 1908


Pada kongres tahun 1908 di Yogyakarta, muncul dr Tjipto Mangunkusumo yang menginginkan BU menjadi partai politik yang beranggotakan seluruh lapisan masyarakat di seluruh Indonesia, bukan hanya priyayi Jawa. Namun, keinginan Tjipto ini kandas. BU tetap didominasi para priyayi, hingga akhirnya dia mengundurkan diri setahun kemudian.

Memang, BU tak lebih dari organisasi priyayi yang tidak banyak memainkan peran politik aktif. Padahal, berjuang atau perang merebut kemerdekaan adalah bagian dari strategi politik. Hingga bubarnya di tahun 1935, BU malah menampakkan diri sebagai partai resmi pemerintah kolonial Belanda.
Wallahu 'alam

sumber majalah islam Sabili
Lihat juga di sini : Cinta Pemerintah pada Rakyat
Bagaimana Ceritanya Kelahiran BU Dianggap Sebagai Kebangkitan Nasional?

6.21.2008

Cinta Pemerintah pada Rakyat

Ketika dimulai gelar piala Thomas dan Uber di Jakarta, ada semacam rasa nasionalisme yang menjalar di tengah-tengah masyarakat. Ribuan orang datang ke Istora Senayan, mereka mengantri dan membeli tiket demi membela tim yang memperjuangkan Merah Putih di tengah lapangan. Ribuan lagi mengantri tak kebagian tiket dan sangat masgul hatinya, karena tak bisa mendukung tim Indonesia.

Di dalam gedung teriakan-teriakan begitu heroik dan menggetarkan. "Indonesia! Indonesia! Indonesia!"

Radio, televisi dan koran-koran begitu hangat membincangkan kemenangan atau menganalisa dengan serius sudut-sudut yang menyebabkan kekalahan. "Berjuanglah sampai tetes darah penghabisan, kami berdiri mendukungmu di sini," suara seorang pendengar radio mengutarakan pendapatnya.

"Kibarkan Merah Putih di tiang tertinggi," suara pendengar yang lain.

Begitu besar cinta mereka pada Indonesia, terpancar dari kata, nada dan getar suara. Tapi apakah Indonesia, tepatnya pemerintah Indonesia, juga memiliki cinta yang sama besar pada rakyatnya ?!???

Ditengah-tengah lapangan badminton, Wakil Presiden Jusuf Kalla berkata, "yang menolak kenaikan BBM justru menguntungkan orang kaya". Tentu saja logika Wapres benar, sebab pengguna BBM bersubsidi 80% adalah orang-orang mampu. Tapi Wapres juga salah, sebab orang-orang tak mampu juga tercekik lehernya dengan kenaikan seluruh bahan dasar akibat efek domino kenaikan harga BBM.


Tidakkah pemerintah Indonesia mencintai rakyatnya, seperti cinta rakyat pada negara ini ?!
Sejauh ini berhadapan dengan pemerintah, seolah-olah rakyat sedang berhadapan dengan para pedagang. Pemerintah dan rakyat seolah-olah sedang bertransaksi, dan tentu saja pemerintah tak mau rugi.

Nasionalisme rakyat tak terbalas dengan cinta dalam wujud keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Benar-benar seperti behadapan dengan pedagang, yang hanya mengerti satu bahasa, rugi atau laba. Dan pemerintah hari ini tidak sedang ingin mencari rugi. Karena itu dicabutlah subsidi dengan segudang alasan; APBN, harga minyak dunia, penyelamatan negara, dan lain sebagainya.

Tapi intinya hanya satu, bagaimana negara tak rugi melawan rakyat sendiri !?

dikutip dari majalah Islam Sabili